ProDaily, JAKARTA – LIXIL, perusahaan global pelopor solusi air dan hunian berkelanjutan, terus memperkuat peran sebagai mitra strategis bagi arsitek, developer, interior designer, serta para profesional di ekosistem industri. Melalui berbagai inisiatif kolaboratif, LIXIL secara konsisten membuka ruang pertukaran wawasan serta memfasilitasi sinergi agar para pelaku industri dapat saling mendukung dan berkembang.
Dengan mengambil peran aktif sebagai penggerak, LIXIL membukakan perspektif baru bahwa kualitas ruang hidup tidak lagi dapat dibangun secara terpisah, melainkan membutuhkan integrasi antara desain, riset, inovasi, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap isu keberlanjutan.
Arfindi Batubara, Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia menegaskan kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik. Lanskap arsitektur masa kini harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional.
“Inilah komitmen yang terus LIXIL dorong bersama ekosistem industri dalam visi dan misi making better homes a reality for everyone, everywhere,” ujar Arfindi Batubara dalam keterangannya, Rabu (29/4).
Paviliun “OASE: Architecture in the Water Cycle” yang dihadirkan LIXIL pada ajang ARCH:ID 2026 di ICE BSD City tampil sebagai manifestasi nyata saat arsitektur, data lingkungan dan sosial, narasi visual, hingga desain lanskap bersatu untuk saling terhubung.
Kolaborasi strategis bersama Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio sejak tahap inisiasi sukses mentransformasi paviliun OASE sebagai ruang eksplorasi yang mendalam.
Adi Purnomo, Founder Mamostudio, menjelaskan paviliun ini lahir dari intensi yang sederhana namun kuat, yaitu merespons isu air dan ruang hidup melalui pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatif.
“Saya memiliki perhatian panjang pada persoalan air dan kaitannya dengan arsitektur. Kami mencoba mendedikasikan paviliun ini sebagai titik yang semacam oase, memberi ruang hijau ke ruang publik yang lebih besar. Itu kenapa kita bikin namanya jadi OASE, yang kebetulan kata oase juga berkaitan dengan air,” ungkap Adi.

Dia mengapresiasi komitmen kuat LIXIL yang tidak hanya menghadirkan produk berkualitas, tetapi juga menyediakan wadah pertukaran gagasan dan pengetahuan di ekosistem industri.
Novita Anggraini, Researcher Labtek Apung menyebutkan riset yang diintegrasikan dalam paviliun ini juga dikembangkan secara lintas disiplin dengan melibatkan berbagai keahlian, mulai dari ilmu kimia, ilmu lingkungan, sejarah, arkeologi, hingga teknik lingkungan dan perencanaan kota. Melalui dukungan LIXIL, riset mengenai sejarah sanitasi dan perkembangan peradaban kota, yang sebelumnya memiliki akses terbatas, kini dapat direfleksikan kepada publik secara lebih luas.
Novita menjelaskan bahwa pada masa pendudukan VOC, Batavia juga sempat menghadapi krisis serius berupa banjir dan wabah penyakit akibat ketergantungan masyarakat pada sungai dan kanal yang menjadi pusat aktivitas domestik hingga bisnis. Kondisi tersebut begitu krusial hingga mendorong para insinyur Eropa untuk merancang ulang tata kota, berpindah dari Old Batavia menuju New Batavia yang kini menjadi pusat kota Jakarta.

“Dari situ kita bisa melihat bahwa persoalan sanitasi dapat mempengaruhi tatanan sosial masyarakat. Sejarah ketergantungan terhadap air dan sanitasi sudah terlihat sejak dulu dalam perjalanan sebuah kota,” ungkapnya.
Kontribusi LIXIL
Kesehatan dan sanitasi global merupakan salah satu dari tiga pilar strategis LIXIL dalam menjawab isu-isu mendesak dunia. Saat ini masih ada 3,4 miliar orang di dunia yang belum memiliki akses sanitasi layak, dimana LIXIL telah berhasil mencapai target 2026 dengan meningkatkan akses sanitasi bagi 103 juta orang.
Capaian ini berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat, sekaligus memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan secara global. LIXIL berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan dan dampak inisiatifnya, mengingat setiap USD1 investasi dalam sanitasi dapat menghasilkan dampak ekonomi hingga USD5.
Di ARCH:ID 2026, OASE dari LIXIL turut mengintegrasikan elemen lanskap dan pendekatan visual yang saling melengkapi dalam memperkuat narasi paviliun. Elemen utama, seperti air dan tanaman dirancang dapat dialihfungsikan kembali (repurposed) sebagai bagian dari komponen pendukung lanskap untuk proyek lain ke depan. Konsep storytelling visual digunakan sebagai medium komunikasi, sehingga kompleksitas data dan isu dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih intuitif.
Selain itu, LIXIL juga menghadirkan dua wadah dialog selama ARCH:ID 2026 berlangsung. Sesi open house “Step into the Oasis” membedah pendekatan desain dan penerjemahan data menjadi pengalaman ruang. Sedangkan Alun-alun Talks “From Data to Design: Rethinking Architecture Through Environmental Intelligence” membahas penggunaan data lingkungan sebagai dasar perancangan arsitektur yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Keberhasilan LIXIL menghadirkan konsep yang kuat, ruang pamer yang inspiratif, serta pengalaman kreatif dan edukatif yang menyeluruh menjadikan Paviliun OASE sebagai salah satu sorotan utama di ARCH:ID 2026, sekaligus memperoleh pengakuan dalam Best Booth Award ARCH:ID 2026.
Melalui paviliun OASE, LIXIL membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan perspektif baru yang lebih menginspirasi, adaptif dan relevan terhadap tantangan ruang hidup.
LIXIL juga terus berperan aktif sebagai katalisator perubahan melalui rangkaian inisiatif perusahaan, antara lain LADC (LIXIL Architectural Design Competition) dan LDAD (LIXIL Day of Architecture & Design). Kedua platform tersebut menjadi program inisiasi LIXIL sejak tahun 2019.
Kesempatan berpartisipasi dalam LADC 2026 akan dibuka mulai 18 Mei hingga 5 Juli 2026. LDAD 2026 direncanakan berlangsung pada 12 Agustus 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. (aps)

