“Konsumen kini memandang mal sebagai destinasi dengan pengalaman unik, bukan sekadar tempat berbelanja"
ProDaily, JAKARTA – Pasar ritel Jakarta kembali mencatat penguatan kinerja pada kuartal III-2026. Tingkat hunian pusat perbelanjaan secara keseluruhan meningkat menjadi 86,8%, didukung penyerapan positif dan ekspansi para peritel. Mal kelas premium terus mencatat kinerja terbaik dibandingkan segmen lainnya, dengan tingkat hunian di atas 95%.
Anton Sitorus, Senior Director dan Head of Research & Consulting CBRE Indonesia mengatakan saat ini peritel semakin memilih destinasi ritel berkinerja tinggi yang mampu menghadirkan customer experience yang berbeda.
“Konsumen kini memandang mal sebagai destinasi dengan pengalaman unik, bukan sekadar tempat berbelanja. Perubahan ini terus menguntungkan mal-mal premium yang memiliki kombinasi tenant yang kuat, penawaran lifestyle yang unik dan menarik, serta elemen pengalaman yang lebih lengkap,” ujar Anton dalam laporan risetnya.
Menurutnya, pasar mal saat ini berada dalam fase polarisasi yang sehat, di mana mal kelas atas (high-end) dan mal papan atas (upper-grade) mendominasi permintaan, sementara mal sekunder harus bekerja lebih keras menghadapi ketatnya persaingan.
“Mal segmen premium berhasil mempertahankan tingkat hunian yang tinggi serta permintaan penyewa yang kuat. Sebaliknya, mal-mal sekunder kini menghadapi tekanan kompetitif yang semakin ketat dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Anton mengungkapkan, mal-mal kelas atas baru menyumbang sebagian besar porsi permintaan sepanjang kuartal ini, yang berimbas langsung pada lonjakan tingkat hunian yang signifikan. Bahkan, mal-mal high-end tetap kokoh mempertahankan posisi sebagai segmen dengan tingkat hunian tertinggi di pasaran.
Tidak hanya dari sisi okupansi, performa finansial mal papan atas juga mencatatkan hasil positif. “Tarif sewa (rental rates) di mal-mal kelas atas mempertahankan momentum pertumbuhan yang positif, serta mencatatkan kenaikan yang jauh melampaui pencapaian segmen mal lainnya,” paparnya.
Ruang Interaksi Sosial
Lebih lanjut, Anton menyoroti adanya pergeseran perilaku konsumen yang turut mengubah lanskap bauran penyewa (tenant mix) di pusat perbelanjaan modern. Saat ini, ungkapnya, mal tidak lagi sekadar menjadi tempat berbelanja konvensional, melainkan bertransformasi menjadi ruang interaksi sosial.
Salah satu fenomena menarik yang dicatat CBRE Indonesia adalah kembalinya tren ritel budaya dan literasi. Toko buku saat ini bangkit kembali seiring tingginya kebutuhan konsumen urban untuk mendapatkan pengalaman luring (offline) yang lebih bermakna.

“Toko buku bertransformasi menjadi lifestyle hubs atau pusat gaya hidup yang memadukan fungsi ritel, kafe, penyelenggaraan acara komunitas, hingga ruang publik yang interaktif,” jelas Anton.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi juga sangat dipicu oleh tren perawatan diri (self-care) dan kebugaran (wellness). Kesadaran masyarakat yang semakin tinggi terhadap kesehatan fisik dan mental mendongkrak ekspansi pesat dari merek-merek kecantikan, pusat kebugaran, serta fesyen athleisure di berbagai mal utama.
Dinamika pasar ritel nasional juga semakin berwarna dengan masuknya gelombang ekspansi dari merek-merek asal Asia. Jika sebelumnya merek Asia banyak mendominasi sektor makanan dan minuman (F&B), kini ekspansi tersebut merambah luas ke sektor fesyen, kecantikan, gaya hidup, hingga teknologi.
“Kehadiran merek-merek Asia ini memberikan warna baru yang berkontribusi pada bauran penyewa yang jauh lebih beragam dan terdiferensiasi bagi industri mal di Indonesia,” pungkas Anton. (aps)

