Pelemahan mata uang rupiah telah mendorong penyewa mencari sewa yang lebih rendah
ProDaily, JAKARTA – Pasar properti perkantoran di Jakarta menunjukkan dinamika yang menarik di kuartal III-2026. Riset terbaru Leads Property mengungkapkan sektor perkantoran baik di kawasan pusat bisnis/central business district (CBD) maupun non-CBD memperlihatkan tren penyerapan dan penyesuaian harga di tengah tantangan global dan domestik.
Igam Savitri, Executive Director Leads Property mengatakan pasokan kumulatif kantor di CBD Jakarta stabil di angka 7,45 juta meter persegi di kuartal III-2026. Ketegangan global dan volatilitas nilai tukar mata uang membuat pengembang menunda konstruksi proyek baru, sehingga tidak ada pasokan perkantoran baru di CBD Jakarta hingga akhir tahun ini.
“Penyerapan pasar di kuartal III melampaui kuartal sebelumnya dengan angka yang kuat mencapai 32.228 meter persegi. Tren ini didorong fenomena flight-to-quality (perpindahan ke gedung yang berkualitas lebih baik) dan kebutuhan akan ruang transisi (swing space),” ungkapnya.

Sementara itu, tingkat hunian (okupansi) ruang kantor di CBD merangkak naik ke posisi 74,3%. Sedangkan tarif sewa kotor rata-rata stabil dengan koreksi tipis sebesar 0,07% menjadi Rp336.800 (USD18,9) per meter persegi per bulan. Sementara harga pasar strata-title turun tipis 0,3% menjadi Rp55,3 juta (USD 3.094) per meter persegi.
Menurut Igam, biaya fit-out yang meningkat akibat pelemahan mata uang telah mendorong penyewa mencari sewa yang lebih rendah guna menekan biaya modal (capital expenditures).
Pasokan Bertambah
Di sisi lain, pasar perkantoran di kawasan non-CBD di kuartal III-2026 “kedatangan” pasokan baru seluas 66.290 meter persegi, menyusul rampungnya pembangunan ADR Tower di Jakarta Utara, yang menggenapi total pasokan perkantoran menjadi sekitar 4,3 juta meter persegi.
“Pasokan diproyeksikan bertambah lagi pada kuartal mendatang dengan selesainya Dipo Center di Jakarta Barat,” kata Igam.
Di non-CBD, penyerapan bersih kuartalan melonjak ke angka 21.247 meter persegi yang didorong aktivitas penyewaan yang kuat di Jakarta Selatan (koridor TB Simatupang dan Pondok Indah). Kendati demikian, masuknya pasokan baru di Jakarta Utara memberikan tekanan pada tingkat hunian keseluruhan yang turun tipis ke level 75,1%.
Rata-rata tarif sewa kotor di kawasan OCBD stabil di kisaran Rp239.100 (USD 13,4) per meter persegi per bulan, dan harga kantor strata-title bertahan di angka Rp31,2 juta (USD 1.749) per meter persegi.
“Ke depan, sektor perkantoran diperkirakan mengalami pertumbuhan moderat,” paparnya.
Selain tren flight-to-quality, kata Igam Savitri, perusahaan mulai melirik strategi flight-to-value demi efisiensi anggaran jangka panjang, serta melakukan konsolidasi ruang guna menekan biaya operasional di tengah ekspektasi tarif sewa yang tetap kompetitif. (aps)

