Dari sisi permintaan, penyerapan (take-up) di kuartal III-2026 mencapai sekitar 130,6 hektare
ProDaily, JAKARTA — Sektor properti industri di Indonesia kembali menunjukkan performa yang solid menjelang penghujung tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru dari Leads Property, pasokan dan penyerapan lahan industri mencatatkan tren pertumbuhan yang positif, ditopang oleh kuatnya arus investasi asing serta ekspansi dari sektor manufaktur dan teknologi.
CEO Leads Property, Hendra Hartono mengungkapkan bahwa pasar lahan industri nasional pada kuartal berjalan kembali kedatangan pasokan baru seluas sekitar 44 hektare yang dimotori oleh wilayah Bekasi, Jawa Barat.
“Penambahan ini membawa total kumulatif pasokan lahan industri kita menjadi 14.091 hektare, yang mencerminkan ekspansi berkelanjutan dari ketersediaan lahan industri, khususnya di kawasan koridor timur Jakarta,” ujarnya.

Menurut Hendra, di tengah tingginya aktivitas investasi di sektor industri, para pengembang lokal tetap proaktif memperkenalkan inventaris lahan baru. Langkah strategis ini diambil sebagai respons cepat untuk mengantisipasi potensi lonjakan permintaan dari sektor manufaktur dan pusat data (data center) yang diproyeksikan akan terus menjadi motor penggerak utama ke depan.
Dari sisi permintaan, Leads Property menyebutkan adanya momentum penyerapan (take-up) yang sangat kuat dengan angka pencapaian kuartalan mencapai sekitar 130,6 hektare. Alhasil, tingkat penjualan (sales rate) industri secara keseluruhan terdongkrak naik hingga menyentuh level 92,3%.
Aktivitas pasar ini sebagian besar ditopang oleh aliran investasi berkelanjutan dari Tiongkok dan berbagai negara Asia lainnya, khususnya di sektor manufaktur. Hal ini, kata Hendra, semakin mengukuhkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi investasi dan basis manufaktur terkemuka di kawasan regional.
Secara rinci, permintaan lahan didominasi oleh sektor manufaktur—khususnya industri serat optik dan baja. Di samping itu, sektor data center muncul sebagai kontributor signifikan baru, dengan sejumlah kawasan industri telah mencatatkan transaksi nyata dari sektor ini. Sektor barang konsumsi (FMCG) dan logistik turut memberikan andil positif terhadap total penyerapan pasar.
Stabilitas Harga dan Sewa
Seiring dengan tingginya permintaan, pergerakan harga terpantau stabil dengan tren yang tetap terjaga. Rata-rata harga lahan industri tercatat berada di posisi Rp3,37 juta per meter persegi pada kuartal III-2026, atau mengalami kenaikan tipis sekitar 0,51% secara kuartalan.
Sementara itu, tarif sewa pasar gudang turut menunjukkan penyesuaian, dengan rata-rata berada di angka Rp77.000 per meter persegi per bulan, yang mencatatkan kenaikan moderat sebesar 1,5% dalam kurun waktu enam bulan terakhir.
Leads Property mengungkapkan ketahanan sektor industri ini tidak lepas dari progres positif realisasi investasi nasional pada paruh pertama tahun 2026 yang telah mencapai sekitar 50% atau setara dengan Rp1.010 triliun dari target setahun penuh sebesar Rp2,041 triliun.
“Capaian itu tidak hanya mencerminkan komitmen kuat para investor terhadap iklim bisnis di Indonesia, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,29% pada semester I-2026,” papar Hendra Hartono.
Ke depan, dia menyampaikan bahwa para pengelola kawasan industri saat ini banyak menerima penjangkaan (enquiry) yang didominasi oleh industri otomotif, tekstil, garmen, dan barang konsumsi. Peminatan dari sektor data centre diproyeksi akan terus berada dalam radar utama kawasan industri.
“Segmen ini memiliki karakteristik tersendiri dengan penawaran angka harga lahan terpisah yang berada di atas harga lahan industri reguler,” pungkasnya. (aps)

