Jumlah aset yang laku melalui lelang sejak Agustus 2026 telah melampaui total pencapaian sepanjang 2025
ProDaily, JAKARTA – Minat masyarakat terhadap lelang properti menunjukkan tren kenaikan signifikan jelang akhir 2026. Salah satunya tampak dari tingginya minat terhadap lelang aset PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) atau BTN yang didorong oleh kemudahan akses digital dan variasi harga.
Pakar properti, Panangian Simanungkalit melihat kombinasi harga aset, akses pembiayaan, dan informasi digital memungkinkan masyarakat masuk ke usaha jual beli properti. Peluang usaha properti melalui lelang dinilai terbuka bagi kelas menengah, terutama pada aset seharga Rp200 juta hingga Rp500 juta.
Menurutnya, peluang tersebut muncul di tengah kehati-hatian sebagian investor terhadap properti bernilai di atas Rp1 miliar. Pada segmen harga yang lebih rendah, aset lelang BTN justru menarik pembeli yang ingin memperbaiki rumah untuk dijual kembali maupun menempatinya sendiri.
“Ini akan menciptakan property-preneur di kalangan menengah. Bahkan mungkin menengah ke bawah,” ujar Panangian dalam sebuah diskusi mengenai lelang properti BTN di Jakarta, Jumat (30/10).
Dia menggambarkan pola usaha tersebut seperti perdagangan mobil bekas; membeli aset, melakukan perbaikan, kemudian menjualnya kembali. Dalam konteks properti lelang, harga pembelian dan tersedianya pembiayaan menjadi faktor yang menarik minat pelaku usaha.

Perkembangan penjualan aset BTN memperkuat gambaran tersebut. Berdasarkan data perseroan, jumlah aset yang laku melalui lelang sejak Agustus 2026 telah melampaui total pencapaian sepanjang 2025. Memasuki triwulan keempat, sebanyak 6.000 agunan telah terdaftar lelang dari target pendaftaran 10.000 agunan sepanjang 2026.
BTN menargetkan rasio laku lelang nasional mencapai 35% pada akhir tahun, dari posisi saat ini di kisaran 21%. Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi salah satu wilayah andalan dalam mendukung penjualan aset perseroan.
KPR Maju
Panangian menilai penyebaran informasi melalui platform digital turut membuka pasar lelang kepada lebih banyak calon pembeli. Masyarakat dapat mengetahui aset yang ditawarkan di kawasan yang mereka minati, kemudian melakukan survei sebelum mengikuti lelang.
“Jadi orang sudah bisa melihat propertinya melalui digital platform, sehingga penyebarannya lebih luas,” katanya.
Untuk menjangkau calon pembeli, BTN memasarkan aset melalui Bale by BTN, web Bale Lelang, media sosial, serta portal properti Rumah123 dan Pinhome. Pemasaran tersebut didukung kerja sama dengan DJKN beserta jajaran KPKNL dan agen properti. BTN juga menyediakan fasilitas KPR Maju bagi pembeli yang membutuhkan pembiayaan.
Selain membuka peluang usaha, Panangian melihat aset lelang menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin membeli rumah di lingkungan yang sudah dikenal. Dia mencontohkan keluarga yang telah lama mengontrak di suatu kawasan dan ingin tetap tinggal di sana karena pertimbangan keluarga serta transportasi.
“End-user pasti ada, terutama di lokasi-lokasi yang sudah matang,” tuturnya.
Karena itu, sebut Panangian, daya tarik lelang BTN tidak hanya terletak pada peluang menjual kembali properti. Bagi pembeli untuk dihuni sendiri, ketersediaan rumah di kawasan yang telah berkembang juga memberikan kesempatan memperoleh hunian tanpa harus berpindah jauh dari lingkungan mereka sehari-hari. (aps)

