ProDaily, JAKARTA – PT Intiland Development Tbk (kode emiten; DILD) atau Intiland menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025 secara daring melalui layanan eASY.KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) pada Rabu (10/6).
Sekretaris Perusahaan Intiland, Theresia Rustandi mengatakan para pemegang saham telah memberikan persetujuan atas seluruh agenda RUPS Tahunan.
Lima agenda RUPS Tahunan yang diusulkan perseroan meliputi persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan tahun buku 2025, pemberian wewenang kepada Dewan Komisaris Intiland untuk menunjuk Akuntan Publik Independen, penetapan penggunaan laba bersih untuk tahun buku 2025, penetapan remunerasi Dewan Komisaris dan pendelegasian wewenang kepada Dewan Komisaris untuk menetapkan remunerasi anggota Direksi, serta persetujuan hal-hal lain yang berhubungan dengan agenda RUPS Tahunan.
Persetujuan tersebut mencerminkan kepercayaan pemegang saham terhadap pengelolaan perseroan, penerapan tata Kelola perusahaan yang baik, serta langkah manajemen dalam menjaga keberlanjutan usaha.
“Perseroan selalu memastikan setiap kebijakan dan langkah strategis dijalankan secara hati-hati, terukur, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Theresia dalam keterangan resminya.
Pemegang saham juga menyetujui usulan perseroan untuk belum membagikan dividen atas laba tahun buku 2025. Intiland tercatat membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp64,26 miliar. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp2 miliar digunakan sebagai dana cadangan wajib dan sisanya Rp62,26 miliar dicatat sebagai saldo laba.
Direktur Utama Intiland, Archied Noto Pradono mengungkapkan tahun ini perseroan masih fokus pada upaya menurunkan jumlah utang atau deleveraging. Strategi ini menjadi bagian penting dari kebijakan perseroan untuk mengurangi beban keuangan, menjaga efisiensi operasional, dan memperkuat fundamental usaha.
Pada tahun 2025, Intiland berhasil menurunkan jumlah utang sebesar 25 persen menjadi Rp3,08 triliun dari Rp4,11 triliun pada tahun 2024. Penurunan ini dilakukan melalui restrukturisasi utang, percepatan pelunasan, penjualan aset non-inti, serta pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II Tahun 2022 dan Tahap III Tahun 2022 Seri B.
“Penurunan jumlah utang menjadi salah satu pencapaian penting. Langkah ini membantu kami mengendalikan beban keuangan, memperkuat struktur permodalan, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi perseroan untuk menjaga stabilitas usaha, sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” kata Archied.
Andalkan Proyek Berjalan
Mempertimbangkan tantangan dan risiko usaha ke depan, Intiland menempuh langkah strategis dengan memperkuat efisiensi pada proses operasional dan keuangan. Langkah ini sebagai upaya menjaga stabilitas usaha, meningkatkan kualitas profitabilitas, memperkuat struktur keuangan, serta melanjutkan transformasi bisnis secara terukur.
“Tahun ini, kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang ada atau sudah berjalan (eksisting). Pengembangan proyek baru tetap disiapkan, tetapi dilakukan sangat hati-hati, dengan mencermati peluang dan momentum yang tepat serta daya serap pasar,” ungkapnya.
Di kuartal I-2026, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar atau turun 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan pengembangan memberikan kontribusi sebesar Rp387,1 miliar, sedangkan pendapatan berulang atau recurring income tercatat sebesar Rp232,6 miliar.
Kontribusi pendapatan terbesar pada kuartal I tahun ini berasal dari recurring income sebesar Rp232,6 miliar atau 37,5 persen, diikuti segmen kawasan industri sebesar Rp227,4 miliar atau 36,7 persen, perumahan sebesar Rp121,9 miliar atau 19,7 persen, dan high-rise residential sebesar Rp37,9 miliar atau 6,1 persen.
Perseroan memproyeksikan pasar properti tahun 2026 masih bergerak selektif, namun tetap memiliki peluang pertumbuhan terutama dari segmen perumahan dan kawasan industri. Perseroan menargetkan marketing sales tahun 2026 sebesar Rp1,95 triliun, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar Rp1,61 triliun. (aps)

