ProDaily, JAKARTA – Pembangunan berkelanjutan kini menjadi instrumen penting dalam transaksi sewa perkantoran. Hal itu dibuktikan dengan tingkat okupansi rata-rata gedung bersertifikat hijau di CBD Jakarta yang lebih tinggi dibandingkan gedung non-hijau. Tren ini tercermin pula dari harga sewa rata-rata ruang perkantoran ramah lingkungan yang relatif stabil.
Konsultan properti, Knight Frank Indonesia mengemukakan pertumbuhan ruang perkantoran gedung bersertifikat hijau di CBD Jakarta cukup progresif selama lima tahun terakhir, di mana hampir semua atau sekitar 88% gedung perkantoran kelas premium di kawasan pusat bisnis penting di Jakarta tersebut telah mengantongi lisensi gedung hijau.
Sebagian besar gedung perkantoran baru yang memasuki pasar di tahun ini juga telah bersertifikat hijau. Sementara untuk gedung perkantoran sewa di CBD, baru sekitar 37% yang telah mencapai status tersebut,
Meskipun demikian, ungkap Willson Kalip, Country Head of Knight Frank Indonesia, masih ada potensi pertumbuhan signifikan sebelum gedung bersertifikat hijau menjadi jenis yang dominan.
“Pergeseran preferensi occupier terus bergerak ke arah gedung kantor bersertifikat hijau. Tren ini diperkirakan akan terus mewarnai pertumbuhan perkantoran di Jakarta. Secara jangka panjang, tren ini akan memberikan dampak positif terhadap efisiensi penggunaan energi dan air dalam operasional gedung perkantoran,” ujar Willson Kalip dalam paparan risetnya.
Saat ini, para penyewa memang semakin mempertimbangkan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam strategi realestat mereka. Perusahaan multinasional terkemuka memimpin dengan net-zero roadmaps dan perjanjian sewa yang berfokus pada ESG, serta memperlakukan ESG sebagai pendorong nilai, bukan sekadar persyaratan kepatuhan.
Menurut penelitian global Knight Frank (Y)OUR SPACE 2025 yang mengeksplorasi kekuatan yang membentuk ulang cara kerja dan tempat kerja, para penyewa global mengungkapkan bahwa tiga prioritas ESG utama untuk portofolio mereka adalah mengurangi jejak karbon, meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan melalui ruang yang berkelanjutan, dan memperoleh sertifikasi gedung ramah lingkungan.
Saat mempertimbangkan keputusan pembangunan di masa depan, tiga fitur keberlanjutan teratas yang memengaruhi pilihan adalah sertifikasi gedung ramah lingkungan, fasilitas pengisian daya kendaraan listrik (EV), dan sumber energi terbarukan.
Jackie Cheung, Director of ESG at Knight Frank Asia Pacific menyatakan pihaknya melihat occupier properti di berbagai negara berlomba-lomba menyertakan klausul sewa berbasis ESG saat mengambil keputusan. Untuk pasar Jakarta, sebutnya, perkantoran premium Grade A bersertifikasi hijau berada di posisi yang sangat menguntungkan. Gedung perkantoran ini tidak hanya memenuhi kriteria keberlanjutan, tetapi juga menawarkan ketahanan operasional yang dicari occupier.
“Oleh karena itu, seiring dengan menguatnya tren ini, para pemilik gedung yang proaktif berinvestasi pada aset yang selaras dengan prinsip ESG akan menjadi yang paling siap untuk menarik dan mempertahankan occupier berkualitas tinggi,” jelasnya.
GBCI Greenship Mendominasi
Sertifikasi terkait lingkungan terus mendominasi di Indonesia, dengan sertifikat GBCI Greenship tetap menjadi sertifikasi keberlanjutan paling umum untuk gedung perkantoran di CBD Jakarta (61%), dibandingkan dengan WELL dan sertifikasi lain yang berfokus pada kesehatan.
Di luar sertifikasi, pasar akan memerlukan strategi yang ditargetkan untuk mengatasi prioritas realestat tertinggi kedua para penyewa yakni meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan.
Sementara itu, penyewa aktif di pasar CBD Jakarta berasal dari berbagai sektor, termasuk pertambangan, IT, oil and gas, e-commerce, konstruksi, energi, dan industri terkait EV.
Di semester I-2025, stok perkantoran di CBD Jakarta tetap sekitar 7.326.495 meter persegi. Tidak ada stok baru yang diperkirakan masuk sampai akhir tahun ini. Tingkat okupansi menunjukkan optimisme, meningkat secara perlahan namun stabil menjadi 77,16%. Sementara serapan di paruh pertama tahun 2025 tercatat sekitar 63.460 meter persegi. Harga sewa rata-rata sedikit pelemahan, turun sekitar 1%-2% secara tahunan. (aps)